Selasa, 31 Januari 2017

"GOBLIN : More Than About Love Story"

Goblin, lebih dari sekedar kisah cinta.


Banyak cara yang dilakukan oleh masing-masing orang dalam mengisi liburan. Salah satunya dengan “nonton”. Baik itu menonton di bioskop, di rumah atau dimana saja tempat yang disukai. Banyak tontonan yang bisa dipilih. Entah itu film, drama, sinetron dengan berbagai genre. Tapi untuk saya pribadi, Saya memilih untuk nonton film dan drama dengan genre yang ringan.
Genre yang ringan pasti berbeda-beda bagi setiap orang. Genre ringan menurut saya bisa dengan genre romance, slice of life, supranatural atau komedi. Menonton beberapa jenis film atau drama dari genre tersebut sebenarnya cukup mampu menguras emosi tapi emosi yang lebih menghubugkan dengan perasaan, terutama romace. Tentu akan berbeda jika kita menonton bebrapa film dengan genre horor atau action. Tapi biasanya dari beberapa genre, pasti selalu disisipkan bumbu-bumbu romantisme yang menghibur penonton.
Berhubung perempuan biasanya suka hal-hal yang berhubungan dengan keindahan, hal yang manis dan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan. Jadi saya lebih memilih untuk menuliskan hasil dari pengalaman menonton drama yang bergenre romance. Yah, tentunya drama dan sudah tentu Drama Korea atau biasanya disebut DRAKOR.
Kebanyakan perempuan pasti suka dengan hal yang berbau dengan drama, apalagi beberapa tahun terakhir ini trend hiburan dari negara gingseng ini cukup melekat di hati para ramaja, mulai dari segi musik, drama, fashion hingga makanan. Fenomema Korean Fever merupakan salah satu perisitiwa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Korea Selatan punya tempat tersendiri di hati masyarakat terutama para fangirls. *hem...
Ok...
Mungkin cukup itu saja pengantar nya ya... Di tulisan kali ini saya kan membagikan pengalaman saya dari salah satu drama yang tengah BOOMING di negara asalnya juga di Indonesia. Entah kenapa drama ini menyisakan kenangan kebaperan level seratus. Mungkin sedikit lebay ya, tapi inilah kenyataannya. Ada pesan implisit yang disampaikan di drama ini dan menurut saya pesan itu tersampaikan dengan baik. Ini penilaian pribadi lho ya..
Judul dramanya mungkin sederahana, sangat sederhana. Tapi serangkaian cerita di drama ini sangat mampu mengaduk emosi saya. Rasa penasaran, sedih, lucu, semua digabungkan jadi satu. Di dalam satu episode mungkin emosi penonton bisa diaduk, lebih dari itu banyak hal yang bisa diambil dari drama ini.
“ GOBLIN”
“GUARDIAN : THE LONELY AND GREAT GOD”
Begitulah drama tersebut tertulis. Sekilas dari judulnya, mungkin pikiran kita langsung mengambil kesimpulan bahwa drama ini drama fantasi. Yup... benar sekali, drama ini intinya bertemakan fantasi. Tentang seorang GOBLIN atau Guardian atau malaikat penjaga atau apa saja yang sepadan dengan ungkapan tersebut.

Drama ini mengambil dua latar waktu, zaman kerajaan Goryeo tentunya berhubungan dengan sejarah Korea Selatan dan masa modern sekarang ini. Berawal dari rasa iri dari seorang raja muda yang bernama Wang Yeo terhadap panglima prajurit yang bernama Kim Shin. Kim Shin merupakan prajurit yang setia mengabdi pada kerajaan. Karena kesetiaan serta ketangguhannya inilah Ia sangat dipuji dan dihargai oleh rakyat dan prajurit lainnya. Hal ini justru tidak disukai oleh Wang Yeo, seorang Raja yang masih sangat muda. Ia merasa keberadaan Kim Shin justru mengancam posisinya sabagai Raja, berawal dari hasutan dari penasehat kerajaan (lupa namanya, hihihi) sehingga rasa iri di hati Wang Yeo semakin memuncak. 

Karena merasa posisinya sebagai Raja tidak dihargai oleh rakyatnya, secara pribadi Ia memanggil Kim Shin dan memberikannya pedang untuk berperang di wilayah perbatasan, tetapi Wang Yeo menginginkan kekalahan dari Kim Shin agar rakyatnya tidak lagi mengagung-agungkan panglima prajurit yang begitu setia itu.
Kim Shin merasa sangat kecewa terhadap titah ini. Ia merasa pengorbannanya untuk melindungi  Raja dan Goryeo tidak dihargai. Kim Shin selalu bertekad untuk memenangkan perang demi kesejahteraan Goryeo, tapi kali ini justru Raja yang sangat Ia hormati malah menginginkan kematiaannya. Kim Shin dengan terpaksa menerima pedang itu dan mencoba menuruti titah Raja. Tapi Kim Shin tetaplah Kim Shin, prajurit yang rela mengorbankan nyawanya demi Goryeo.
Kim Shin pulang dengan kemenangan. Rakyat Goryeo bersorak merayakan kemenangan, tetapi berbeda dengan Wang Yeo, amarahnya memuncak sehingga Kim Shin justru dicap sebagai “penghianat” dan “pemberontak”. Wang Yeo menghukum Kim Shin di depan seluruh rakyatnya. Keluarga Kim Shin dibunuh satu per satu karena Kim Shin bersikeras menuju singgasana Raja. Akhirnya tetap saja Kim Shin menyerah, ia ditusuk oleh pedangnya sendiri, pedang yang diberikan oleh Wang Yeo.
Kim shin serta anggota kelurganya dibuang, tidak diperlakukan sebgaimana mestinya mayat diperlakukan. Kejadian ini meninggalkan luka mendalam bagi seluruth rakyat Goryeo. Pertumpahan darah yang seharusnya tidak terjadi hanya karena rasa iri.
Melalui kejadian ini, Kim Shin yang diambang kematian atau bahakan telah tiada. Memohon kepada Yang Maha Kuasa, sungguh Ia sangat menyesali hal ini terjadi. Ia ingin membalaskan dendamnya pada Wang Yeo.
Dengan kekuasaan Yang Maha Kuasa, Kim Shin diberikan keajaiban. Ia dihidupkan kembali, bahkan hidup abadi menyaksikan kematian orang-orang di sekitarnya, Ia bukan lagi manusia. Yang Maha Kuasa menjadikan ia makhluk abadi –Goblin sampai Ia menemukan pengantinnya yang akan ditemuinya selama beberapa ratus tahun kehidupan abadinya sebagai Goblin.
Pengantin Goblin, begitulah sebutan untuk gadis yang kelak akan mencabut pedang di dada Goblin. Menandakan kehidupan abadinya telah usai. Disinlah awal dari kisah cinta yang sebenarnya. Goblin bersama Pengantinnya akan menguras emosi penonton mulai dari rasa sedih hingga bahagia.
Banyak hal yang disampaikan dari drama ini, bukan hanya tetang Kisah Cinta. Realitas yang terjadi di dunia nyata dikemas menjadi drama fantasi  yang sangat membekas di hati. Mungkin akan sedikit saya uraikan hal-hal yang saya dapat dari Drama Goblin ini.
o  “Tuhan itu ada”
Mungkin bagi sebagian orang, masih banyak yang menanyakan eksistensi dari Tuhan. Secara tidak langsung, Drama ini mengingatkan tentang adanya Tuhan. Hidup manusia tidak lepas dari keikutsertaan Tuhan. Di beberapa adegan, diceritakan ketidakpercayaan mengenai adanya Tuhan dijawab dengan kehadiran Tuhan menjawab segala pertanyaan mereka mengenai kehadiran Tuhan. Terlepas dari cara drama ini menghadirkan gambaran mengenai Tuhan, menurut saya pesan yang satu ini telah tersampaikan.  

o   “Tugas manusia adalah menjalani kehidupan yang telah diberikan Tuhan. Tidak selamanya kesedihan adalah penderitaan yang diberikan Tuhan. Tuhan selalu punya rencana di balik takdir yang telah ditetapkan untuk manusia.”
Definisi dari hidup memang sangat rumit, banyak hal yang terjadi. Kesedihan terasa sangat panjang tetapi kadang kita lupa, ketika kebahagiaan itu datang, kita sedikit sekali bersyukur. Melalui drama ini, kita ditunjukkan tentang penderitaan dan kesedihan. Bertubi-tubi penderitaan yang dialamai para pemeran drama terutama Ji Eun Tak –Pengantin Goblin , mungkin akan sedikit menyentil hati kita untuk bersyukur dan mengingat Tuhan punya rencana lain.

o   “Hargailah hidup yang telah dianugerahkan Tuhan. Hidup ini begitu berharga, jangan disia-siakan.”
Satu hal yang menarik, drama ini menyampaikan pesan bahwa hidup itu begitu berharga. Ditengah banyaknya kejadian mengenai orang-orang yang menyia-nyiakan hidupnya dengan cara merusak tubuhnya sendiri bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. melalui kisah Para malaikat Maut, terutama Malaikat Maut yang hidup bersama Goblin, kita akan ditunjukkan betapa hidup ini sangat berharga bahkan sangat singkat untuk disia-siakan.

o “Merindukan Kematian.”
Hidup abadi tak seindah apa yang dibayangkan. Mungkin  dunia yang saat ini kita jalani, banyak menawarkan keindahan yang tentunya ingin dicapai. Ingin rasanya hidup selamanya di dunia, mengejar mimpi-mimpi dan menikmati dunia bersama orang tercinta. Tapi apa yang terjadi jika sendiri, sendiri dalam keabadian, tentunya sangat hampa. Disitulah saat-saat dimana Goblin merindukan kematian. Melihat kematian satu per satu orang yang hadir di hidupnya, akhirnya harus berakhir di depan matanya selama beratus-ratus tahun. Kematian yang hanya akan didapatkan dari Pengantinnya yang justru meruntuhkan keinginannya untuk mengakhiri hidupnya.

o  “Cinta tak mengenal siapa kamu.”
Drama pada dasarnya menyuguhkan kisah cinta yang melelehkan hati para penonton. Kisah cinta yang terjadi antara Goblin dan pengantinnya menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah hal yang menjadi penghalang tumbuhnya cinta di hati mereka.

o   “Jika memang itu cinta, walau berapa tahun lamanya, cinta adalah cinta. Cinta pasti menunggumu sampai kau kembali. Karena cinta dibuktikan dari penantian.”
Menurut pengalaman menonton saya, poin ini merupakan hal yang paling romantis. Walaupun terkesan lebay. Tapi saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan drama ini. Jika memang yang dicari dan dirasakan adalah cinta. Harusnya berapa lama pun kita menunggu, pasti itu tetaplah dia. Dia sebagai orang yang dicintai. Menunggu dan menanti adalah ujian terbesar dari cinta. Tapi kembali lagi, Tuhan lah yang paling mencintai kita. Pasti Tuhan tidak pernah salah memilihkan cinta untuk kita. Entah kapan akan dipertemukan dengan cinta yang sebenanrya atau entah sampai kapan penantian ini berkahir. Biarlah menjadi rahasia Tuhan.
Bisa dilihat dari kisah Goblin yang menunggu pengantinnnya beratus tahun, dipisahkan lagi selama sembilan tahun, dipertemukan sebantar dan dipisahkan lagi selama tiga puluh tahun lebih hingga akhirnya bertemu kembali.
 --Penantian, itulah cinta.  

o  “Tuhan Maha Penyayang”
Jangan buta dengan kasih sayang Tuhan, berdoalah, berharaplah, memohonlah. Tuhan itu Maha Pengasih, tanpa disadari semua yang dibutuhkan telah diberikan. Jangan selalu menyalahkan Tuhan, justru Tuhan lah Yang Maha Mengetahui dan yang paling mencintaimu.
Dengan atau tanpa menonton drama Goblin ini, harusnya kita manusia sangat menyadari betapa kasih Sayang Tuhan itu melimpah ruah. Yang tepenting, drama ini berhasil menyampaikan pesan moral yang sangat penting ini.

Sebenarnya masih banyak hal-hal menarik yang bisa didaptkan dari drama ini. Kembali kepada penonton, pandai-pandailah memilah. Ambil yang postif dan buang negatif. Lihatlah sesuatu dari berbagai sudut pandang.

Saya tidak tahu menyebut tulisan ini apa, review atau curhatan. Apapun tulisan ini semoga berguna dan menambah rasa penasaran dengan drama GOBLIN (Guardian : The Lonely and Great God).

My favourite Quotes :
“Tidak ada Kesedihan abadi. Tidak ada Cinta yang abadi. Mana yang kamu pilih? Kesedihan atau Cinta.”
“Cinta yang Menyedihkan.”

Gamsahamnida, Saranghae......... hihihi
-Drakor Lovers-
















source : pengalaman pribadi penonton, wikipedia, sumber situs lainnya.

Kamis, 18 Agustus 2016

71 Tahun Indonesia Merdeka : Move On atau Setia?



Aku mencoba mengetuk hati ku sendiri. Aku bertanya, apakah aku ingin move on atau tetap setia? Itu bukanlah pertanyaan lelucon pemuda saat sedang putus cinta. Bukan virus baper karena si dia atau hal-hal alay kekinian. 

Tapi aku bertanya, mencoba khusyuk mejawab pertanyaanku sendiri. Apakah aku sudah move on atau tetap setia. Pertanyaan tersebut sangat sulit ku jawab. Bagaimana tidak sulit jika aku sendiri masih mempertanyakan kecintaan ku pada dirinya. Sudahkah aku mencintainya, mengorbankan tenaga jiwa dan raga kepadanya atau justru aku mencela serta menyesali takdir ku bersamanya. 

Kemudian pertanyaan aneh nya adalah jikalau pun aku sudah move on atau katakanlah melupakannya dan ingin meninggalkannya apakah ada yang seperti dia, apakah ada yang seindah dia dan apakah aku bisa diterima oleh yang lain seperti dia menerima ku atau seperti takdir yang telah ditentukan Allah.
Tidak... pasti sangat sulit, bahkan nyaris mustahil aku bisa move on dari dia. Tatapi aku tak tahu bagaimana caranya setia kepada dia. 

Kira-kira itulah pertanyaan untuk diriku. Aku yang menganggap rentetan-rentetan perjuangan pendahulu sebagai dogeng sebelum tidur. Akulah pula orang yang tidak menghargai guruku ketika tengah mengingatkan ku betapa aku harus beruntung bisa menjalani takdir di negeri ini. Ataupun lebih kejamnya lagi, aku menyebut mereka yang mencintai rentetan peristiwa perjuangan tersebut sebagai orang-orang gamon (gagal move on).

Kenapa harus mencintai dogeng, padahal dogeng hanya rekaan bahkan semua orang dapat menuliskannya. Kenapa harus mempelajari hal-hal yang sudah berlalu toh yang penting masa depan. Sejarah itu abstrak bagaimana bisa membuktikannya, ilmiah dong. Kenapa harus menghapal rentetan peristiwa yang membingungkan hanya untuk mendapatkan angka tinggi di selember kertas. 

Beginikah aku? Beginikah pemuda yang diwasiatkan meneruskan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan? Mungkin para pahlawan tengah merintih sedih karena perjuangan berdarah-darah mereka dihina dan diinjak-injak  pemuda yang tidak tahu cara berterima kasih seperti aku. 

Aku tidak mau tahu tentang cerita perjuangan mereka karena aku tidak mengikutinya dari awal. Aku tidak tahu jika dalam menuliskan serentetan peristiwa sejarah memiliki metode yang terotitis. Tidak sembarang menceritakan kembali. Aku pun tidak sadar bahwa kisah perjuangan para pahlawan maupun tokoh yang ikut berpartisipasi dalam dunia sejarah, dapat ku ilhami. aku dapat belajar bagaimana menjadi pemuda yang tangguh, memiliki toleransi tinggi dan berjiwa patriotik. Tidak hanya sekedar duduk manis menyaksikan kebobrokan moral di zaman ku saat ini atauh bahkan moral ku sendiri pun ikut tumbang dimakan waktu hanya karena kebodohan ku melupakan sejarah. 

Bagaimana aku bisa mengenal dunia kalau negara ku saja ku lupakan? 

Aku tidak tahu kegigihan serta semangat kerajaan-kerajaan baik itu Hindu-Buddha maupun Islam dalam misi memperluas daerah kekuasaannya atau memperluas wilayah nusantara yang menjadi cikal bakal terbentuknya tanah air ku Indonesia. Aku tidak ingat betapa kejamnya kaum imperialis mengeksploitasi hal-hal  yang menjadi hak pribumi. Tetapi justru karena mereka pula aku terkagum-kagum dengan semangat kaum terpelajar umtuk mempersatukan nusantara dengan satu nama yang di dalamnya telah tersusun secara sistematis syarat-syarat de facto dan de jure agar dikenal sebagai satu negara yaitu Indonesia. Bahkan setelah merdeka pun, para pejuang masih digoncang oleh teror-teror para penjajah. Semangat patriotik itu tidak akan mudah dilupakan, sungguh bodoh jika aku move on dari kisah perjuangan yang lebih dari sekedar dogeng sebelum tidur. 

Banyak fakta-fakta yang mengunguncang jiwa hingga menyayat hati. Atau bahkan ada fakta yang disembunyikan di balik kisah yang telah dijalani hingga 71 tahun saat ini. Tidak pernah ada yang tahu jika aku hanya didikte oleh seonggok buku pengantar belajar. 

Aku sadar bahwa aku hanya belajar menurut tuntutan nilai semata hingga aku tidak sepenuh hati mencintai tanah air ku dan bangsaku. Aku hanya mencemooh kerusakan-kerusakan di tanah air ku tanpa ada usaha atau hanya sedikit saja niatan untuk memperbaikinya. 

Sehingga aku pun mengerti  sulit sekali menyusun potongan kertas yang telah dirobek-robek. Tapi dengan sedikit saja tambahan usaha mungkin bisa kembali walau yang tersisa hanya barisan kalimat acak yang absurd dan menciptakan keambiguan.  Mungkin begitulah pemahamanku tentang sejarah. Ada hal-hal aneh yang sering ku pertanyakan dan aku bahkan bingung harus percaya kepada siapa. 

Bagaimanapun acuh nya aku terhadap negara ini, aku telah menghabiskan hidup ku disini. Meminjam nama Indonesia sebagai identitas. Jika aku bukan Indonesia mungkin aku bukanlah yang sekarang. Bukanlah menjadi kemajuan bahkan mungkin kemunduran yang ku alami. Bersyukur aku masih menjadi penduduk mayoritas. Menjadi penduduk terbesar di dunia sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia, meskipun kadang aplikasi dari ajaran agama Islam di tanah tumpah darahku masih kurang dilaksankan oleh penganutnya sendiri. 

Aku harap aku adalah seorang Indonesia yang tangguh jika telah dewasa nanti. Tidak hanya menjadi sampah negara yang memperpadat penduduk. Semoga aku bisa sedikit saja, walau hanya setitik, sedikit saja berkontribusi untuk tanah airku tanah tumpah darahku.

Maafkan aku yang sering mencelamu, maafkan aku yang hanya bisa bicara keburukanmu, maafkan mulut manusia yang gemar mengeluh ini, maafkan aku yang sering menguap saat dikibarkan nya bendera pusaka padahal Sang Saka Merah Putih ialah simbol ketangguhan dan kesabaran yang luar biasa dari para pejuang, maafkan aku sering kali lalai saat mendengarkan Guru Sejarah memaparkan rentetan kisah identitasmu  agar kami penerus bangsa memiliki nasionalisme yang tinggi, maaf kanaku belum bisa membuktikan kesetiaan ku padamu INDONESIA ku. 

Kini aku sadar, mencintai sejarah bukan berarti gamon (gagal move on) tapi mempelajari siapa aku dan diamana aku berdiri. Aku hanya akan move on dari keterpurukan moral , tapi aku takkan pernah berhenti mencintaimu. Walau siapa yang sedang duduk di atas sana, tidak peduli siapa yang tengah berbangga diri di atas namamu, aku tetap warga Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 yang sudah disusun dengan kerja keras para founding father agar sesuai dengan nilai agama dan karakter bangsa Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia, HUT  RI ke-71. MERDEKA!!!! 

“Merdeka atau Mati” -Bung Tomo 

“Jangan sekali-sekali melupakan sejarah” -Ir. Soekarno

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” -Ir. Soekarno 

 "Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki." -Moh. Hatta 

 Bissmillaahirrohmaanirrohiim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا



Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Rabu, 10 Agustus 2016

Persahabatan : Mengapa Memilih Mereka karena Logika?



Sahabat, Sohib, teman, kawan atau apapun kita menyebut mereka. Yang jelas mereka adalah salah satu faktor pendukung besar di skenario hidup setiap orang. Tidak berlebihan untuk menyebut mereka sebagai pelaku yang menyebabkan perubahan bagi kita, baik itu perubahan ke sisi yang lebih baik atau sebaliknya. 

Tidak seperti hubungan lain. Hubungan pertemanan adalah suatu hubungan yang unik. Tanpa adanya suatu ikatan, pertemanan dapat serta-merta terjalin. Seperti kita tahu, hubungan keluarga terjalin karena adanya hubungan darah atau sambung menyambung antara satu keluarga ke keluarga lainnya. Kemudian hubungan kepada pasangan, terjalin karena ada rasa ketertarikan, ingin memiliki atau rasa cinta. Dan hubungan keluarga serta pasangan ini bisa dibilang hubungan yang konsisten. Sedangkan hubungan pertemanan bisa dibilang hubungan yang singkat. Bisa saja dalam satu tahun, seseorang dapat berganti-ganti teman serta pergaulan. 

Pada dasarnya sifat manusia selalu menginginkan yang lebih baik. Begitu juga memilih teman serta pergaulan, setiap orang berhak memilih dengan siapa ingin berteman dan di lingkungan yang bagaimana dia ingin bersosialisasi. Itulah alasan mengapa banyak orang yang sering gonta-ganti pergaulan. 

Seiring berjalannya waktu, usia setiap orang bertambah, begitu pula dengan pola pikir dan pengendalian emosi. Seseorang butuh pertner yang sejalan dan sevisi. Partner itu bisa jadi keluarga, pasangan dan tentu teman. Tidak selamanya kita berada di tengah-tengah keluarga kita. Adakalanya kita mencari orang di luar sana yang dapat diajak untuk berdiskusi mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan. 

Tidak salah kita berteman dengan segala macam bentuk manusia agar tidak terkesan pilih-pilih teman, tapi yakinlah perlu seribu kali berpikir untuk menjadikan orang lain sebagai “teman dekat atau sahabat”. Jadi tidaklah salah jika konsep pemikiran kita  adalah memilih teman dekat harus hati-hati dan beribu kali berpikir. Karena seperti yang sudah dikatakan di atas, teman adalah salah satu faktor yang dapat menciptakan perubahan serta partner untuk mencapai visi dan ambisi. 

Kira-kira begitulah konsep tentang pertemanan yang saya pikirkan. Tidak hanya kenyamanan, banyak faktor lain yang dipertimbangkan dalam memilih teman. Tidak luput dari hal kecil seperti hobi namun tetap terfokus pada persamaan karakter, visi dan ambisi bersama yang sekiranya dapat dipersatukan. Oleh sebab itu tidak heran jika kita bisa saja bergonta ganti teman agar sampai pada titik nyaman.

Lantas bagaimana dengan mereka yang konsisten pada persahabatan? 

Jelas ada orang-orang seperti itu, walaupun kadang tidak sedekat atau seakrab yang dahulu karena kendala jarak yang memisahkan. Atau bahkan ada yang masih seakrab dan sedekat dahulu tanpa ada rasa canggung walaupun mereka sempat terpisah oleh beberapa aspek. 

Jika kita dibesarkan oleh lingkungan yang sama, bisa saja hubungan persahabatan tersebut  tetap konsisten. Karena banyak hal yang dipelajari dan dirasakan bersama. Tapi ketika sudah terpisah jarak atau mental serta emosi yang dikendalikan berbeda-beda maka terkadang kenyamanan dahulu yang sempat dirasakan bersama lama-kelamaan sirna dihancurkan oleh pemikiran yang telah ditanamkan masing-masing orang. 

Sedikit sekali kemungkinan sifat dan pemikiran seseorang tidak berubah. Semakin dewasa seseorang, pasti ia akan menemukan siapa dirinya dan harus dimana dia berbaur. Sulit untuk menjawab pertanyaan “kenapa bisa masih akrab seperti dulu padahal....” padahal dan padahal lain yang sebenarnya bisa saja menjadi faktor pemicu jarak diantara mereka yang bersahabat. 

Kita yang sudah dewasa tidak lagi mencari teman untuk bermain. Tidak seperti zaman taman kanak-kanak dulu yang mencari teman tanpa logika. Karena hal penting saat itu adalah ada teman main petak umpet, main ayunan dan bisa kejar-kejaran sambil tertawa ria. 

Karena pada dasarnya setiap anak masih memiliki pemikiran polos, tidak perlu menjadi ini atau itu agar bisa tertawa bersama. Pertengkaran kecil adalah hal lumrah dan bahkan merupakan bumbu terciptanya tawa. Masa kanak-kanak tak mengenal rahasia. Semua hal menyenangkan memang harus dibagikan kepada sahabat-sahabat. Tidak ada kata-kata beper, karena tujuan semua anak sama yaitu bermain dan tertawa bersama. Tidak ada perasaan menyaingi atau disaingi. 

Tapi itu dulu, masa dimana pahit dan getir kehidupan belum dirasakan. Jauh sebelum seseorang belajar bagaimana mencari jati diri. Jauh sebelum kata sahabat sejati itu dipertanyakan keberadaannya. Sekarang sudah berbeda. Karena bukan sahabat sejati yang tengah dicari, tapi jati diri.